<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="/rss.xsl" media="screen"?>
<rss version="2.0" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule">
   <channel>
      <language>en</language>
      <creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/2.0/uk/</creativeCommons:license>
            <pubDate>Thu, 1 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
      <lastBuildDate>Thu, 1 Jan 1970 00:00:00 +0000</lastBuildDate>
            <ttl>60</ttl>
      <docs>http://www.audioscrobbler.net/data/webservices</docs>      <title>RamaWirawan's Last.fm Journal</title>
      <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal</link>
      <description>The Last.fm journal for RamaWirawan.
        Last.fm journals are a place to talk about all things music.</description>
      <item>
         <title>Headcrusher; New Thrash Revivalist from Surabaya, Indonesia.</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/05/478lmb_headcrusher;_new_thrash_revivalist_from_surabaya,_indonesia.</link>
         <pubDate>Sat, 5 Feb 2011 09:16:52 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/05/478lmb_headcrusher;_new_thrash_revivalist_from_surabaya,_indonesia.</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode">After <a href="http://www.last.fm/music/Oracle" class="bbcode_artist">Oracle</a> and then <a href="http://www.last.fm/music/Gigantor" class="bbcode_artist">Gigantor</a> poured their album in 2010, this time appears one more thrash revivalist. And this time is not from the same town with two names mentioned above. The band named <a href="http://www.last.fm/music/Headcrusher" class="bbcode_artist">Headcrusher</a> rises from the east, like the sun. Precisely, Surabaya.<br /><br />Headcrusher's musical direction that can be read by hearing their first single, &quot;Peluru Kendali&quot; (in English: guided missile) is also not far off from the path traversed by Oracle, Gigantor and <a href="http://www.last.fm/music/Social+Black+Yelling" class="bbcode_artist">Social Black Yelling</a> (which seems also to follow soon). Bringing aggressive style of Bay Area thrash metal. This is a very good news for those who have long been the faithful people of bands like <a href="http://www.last.fm/music/Exodus" class="bbcode_artist">Exodus</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Testament" class="bbcode_artist">Testament</a> and (of course) <a href="http://www.last.fm/music/Metallica" class="bbcode_artist">Metallica</a> (<em>Kill 'Em All</em> era). Because Headcrusher seems also will bring the spirit of classic thrash metal. I couldn't confirm it yet, because I just heard one song (besides, the recording quality is also still not exactly good, maybe because this status is a demo).<br /><br />From the first second until the thirty (intro), Headcrusher open to the darkness, anger and mental-distress <a href="http://www.last.fm/music/Slayer" class="bbcode_artist">Slayer</a>-esque. You will be deceived if at that point you hope to hear voices that tend shrieking vocals a la <a href="http://www.last.fm/music/Tom+Araya" class="bbcode_artist">Tom Araya</a>. No! Headcrusher will shatter you with vocal quality was almost as thick as <a href="http://www.last.fm/music/Max+Cavalera" class="bbcode_artist">Max Cavalera</a>.<br /><br />What is interesting in the thrash revival bands of Indonesia (including Headcrusher): even though they carry the same aggressiveness with the pioneers in the United States, but they like throwing reverberation. I don't know why. Is it because the spacy sounds currently already not cool anymore for the metalhead, or because they wanted to create a new wave, or in they didn't have the technology in Indonesia? I don't know. However, taking advantage of this amplification is that we become more able to feel the heavy sounds. And hopefully for the next album recording, Headcrusher can find a good studio with good engineers who understand well how to convey information that is expected by most homeland thrashers.<br /><br />Headcrusher (it seems) are an observant young guy in the interpretation of thrash metal because they has a powerful insight in this genre. Shouted together &quot;Peluru kendali! Peluru kendali!&quot; in the Interlude, is a good idea that can bring us into an era where this musical genre was just left with a little stock of hardcore punk spirit. And also don't miss the solo guitar session. Although not lengthy, but chromatic lick played by the guitarist (I do not know his name) sort of the main requirement in any thrash metal songs' structure.<br /><br />In short, Headcrusher with &quot;Peluru Kendali&quot; is a small promise from Surabaya for &quot;people of the Prophet Holt or the Prophet Araya&quot; is always waiting their head to be crushed.</div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>Headcrusher; Sebuah Janji Kecil dari Timur</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/05/478hax_headcrusher;_sebuah_janji_kecil_dari_timur</link>
         <pubDate>Sat, 5 Feb 2011 06:56:40 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/05/478hax_headcrusher;_sebuah_janji_kecil_dari_timur</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode">Setelah <a href="http://www.last.fm/music/Oracle" class="bbcode_artist">Oracle</a> dan <a href="http://www.last.fm/music/Gigantor" class="bbcode_artist">Gigantor</a> menggelontorkan albumnya tahun 2010 silam, kali ini muncul satu lagi thrash revivalist. Bukan dari kota yang sama dengan dua nama tersebut di atas. Band yang bernama <a href="http://www.last.fm/music/Headcrusher" class="bbcode_artist">Headcrusher</a>  itu terbit dari arah timur, seperti matahari. Tepatnya Surabaya.<br /><br />Arah musikal Headcrusher yang bisa kita baca dengan mendengar single pertama mereka, &quot;Peluru Kendali,&quot; juga tidak jauh melenceng dari jalur yang dilalui oleh Oracle, Gigantor dan <a href="http://www.last.fm/music/Social+Black+Yelling" class="bbcode_artist">Social Black Yelling</a> (yang sepertinya juga akan segera menyusul). Membawa agresifitas ala Bay Area thrash metal. Ini adalah kabar sangat baik bagi mereka yang sudah lama menjadi umat setia band-band seperti <a href="http://www.last.fm/music/Exodus" class="bbcode_artist">Exodus</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Testament" class="bbcode_artist">Testament</a> dan (tentu saja) <a href="http://www.last.fm/music/Metallica" class="bbcode_artist">Metallica</a> era <em>Kill 'Em All</em>. Karena Headcrusher sepertinya juga akan membawa spirit thrash metal klasik itu. Saya juga belum bisa memastikannya, karena saya baru mendengar 1 lagu saja (selain itu kualitas rekamannya juga masih belum bisa dibilang baik, mungkin karena ini statusnya demo).<br /><br />Pada detik pertama sampai detik ke tigapuluh (intro), Headcrusher membuka dengan kegelapan, kemarahan dan tekanan mental <a href="http://www.last.fm/music/Slayer" class="bbcode_artist">Slayer</a>-esque. Anda akan tertipu jika sampai di situ Anda berharap mendengar suara vokal yang bertendensi shrieking ala <a href="http://www.last.fm/music/Tom+Araya" class="bbcode_artist">Tom Araya</a>. Tidak, Headcrusher akan menohok Anda dengan kualitas vokal nyaris setebal <a href="http://www.last.fm/music/Max+Cavalera" class="bbcode_artist">Max Cavalera</a>.<br /><br />Yang menarik terdapat di dalam band-band thrash revival Indonesia ini (termasuk Headcrusher) adalah: meski pun mereka membawa agresifitas yang sama dengan para pionir di Amerika Serikat sana, namun mereka seperti membuang reverberasi. Saya belum tahu kenapa. Apakah itu karena suara musik yang meruang saat ini memang sudah tidak keren lagi bagi para metalhead, atau karena memang ingin menciptakan gelombang yang baru, atau di Indonesia memang tidak ada teknologinya? Saya belum tahu. Namun, keunggulan memakai amplifikasi ini adalah kita jadi lebih bisa merasakan sound yang heavy. Dan semoga saja pada rekaman albumnya nanti Headcrusher bisa mencari studio yang baik dengan engineer yang paham betul bagaimana caranya menyampaikan informasi yang diharapkan oleh kebanyakan telinga thrashers tanah air.<br /><br />Headcrusher (sepertinya) adalah para pemuda yang jeli dalam menafsirkan thrash metal karena memiliki wawasan yang mumpuni dalam genre ini. Teriak secara bersama-sama &quot;Peluru kendali! Peluru kendali!&quot; pada bagian interlude, itu adalah gagasan yang baik yang mampu membawa kita ke era di mana musik ini baru saja berangkat dengan membawa sedikit bekal spirit hardcore punk. Dan jangan lewatkan juga sesi solo gitar lagu ini. Meski tidak lengthy, tapi lick kromatik yang dimainkan sang gitaris (saya tidak tahu siapa namanya) semacam syarat utama dalam struktur lagu thrash metal manapun.<br /><br />Singkat kata, Headcrusher dengan &quot;Peluru Kendali&quot; adalah sebuah janji kecil dari Surabaya bagi &quot;umat Nabi Holt atau Nabi Araya&quot; yang senantiasa menanti untuk &quot;dihancurkan&quot; (crush) kepalanya (head).</div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>Significant differences between White Is Boring and White Stripes</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/03/4731pl_significant_differences_between_white_is_boring_and_white_stripes</link>
         <pubDate>Thu, 3 Feb 2011 06:02:43 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/03/4731pl_significant_differences_between_white_is_boring_and_white_stripes</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><img src="http://userserve-ak.last.fm/serve/_/54738079/White+Is+Boring+WIB.jpg" /><br /><br />&quot;The White Stripes!&quot; That's probably what will be concluded by the people after knowing what was <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a>. However, 'knowing' is at a lower level than 'know'. And the assumption was bound to change after they listen to <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a>'s musics, and not only 'knowing' the band format. Indeed, there are significant similarities between the format of <a href="http://www.last.fm/music/The+White+Stripes" class="bbcode_artist">The White Stripes</a> and <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a>: both are two-pieces band experimented with rock instruments, without a bass. However, there was also a significant difference from their own music.<br /><br />If <a href="http://www.last.fm/music/The+White+Stripes" class="bbcode_artist">The White Stripes</a>, such as being stripped rock n roll structure which stood steady on the foundation of blues and with it they redefine the rock n roll, <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a> choose a different object of experimentation. <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a> like to take back memorabilia of the glory era of the 90s <a href="http://www.last.fm/tag/alternative%20rock" class="bbcode_tag" rel="tag">alternative rock</a> music, but more digging to find its strongest roots: <a href="http://www.last.fm/tag/punk%20rock" class="bbcode_tag" rel="tag">punk rock</a>. We're not going to listen to blues licks and slide play at the hands of Remon. Tamie's drumming was not as minimalist as <a href="http://www.last.fm/music/Meg+White" class="bbcode_artist">Meg White</a>. Thus, <span title="Unknown artist" class="bbcode_unknown">White Is So Boring</span>'s music became a modern but at the same time as raw as <a href="http://www.last.fm/music/Led+Zeppelin" class="bbcode_artist">Led Zeppelin</a>. <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a> is not a band that could perform at a Blues Music Festivals such as <a href="http://www.last.fm/music/The+S.I.G.I.T" class="bbcode_artist">The S.I.G.I.T</a>.<br /><br />But <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a>'s music is kinda picture of alternative rock music fate in the hands of the people with &quot;the spirit of deconstruction of the punker who will never satisfied with the status quo.&quot; In this case, rock n roll. And with that <a href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring" class="bbcode_artist">White Is Boring</a> become a terror for conservatives rock n roll musicians in Indonesia who regard the concept of  60s and 70s rock n roll era are the best.<br /><br /><strong>Check their first album: <a title="White Is Boring - Suburban White Dogs" href="http://www.last.fm/music/White+Is+Boring/Suburban+White+Dogs" class="bbcode_album">Suburban White Dogs</a></strong></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>[Interview: Death Vomit] Api Kebencian dari Jogja -- in Bahasa Indonesia</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/02/470l0r_%5Binterview:_death_vomit%5D_api_kebencian_dari_jogja_--_in_bahasa_indonesia</link>
         <pubDate>Wed, 2 Feb 2011 11:22:19 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/02/470l0r_%5Binterview:_death_vomit%5D_api_kebencian_dari_jogja_--_in_bahasa_indonesia</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><strong><a href="http://www.last.fm/music/Death+Vomit" class="bbcode_artist">Death Vomit</a> berbicara soal scene death metal Jogja, Jogja Corpse Grinder, album ketiga, dan api kebencian yang selalu mereka hidupkan dalam lagu-lagu.<br /><br />Oleh Rama Wirawan * Foto Oleh Hafiz</strong><br /><br /><img src="http://www.freeimagehosting.net/uploads/c4ff54c82c.jpg" /><br /><em>(*)Death Vomit: Oki, Roy dan Sofyan (dari kiri)</em><br /><br />Death Vomit adalah salah satu band death metal dari luar ibukota yang memiliki kualitas tak kalah dengan band satu genre-nya di Jakarta. Terbentuk pada April 1995, yang awalnya hanyalah sebuah ide yang muncul dari tongkrongan anak-anak Jogja Corpse Grinder (JCG)—komunitas metal di Jogjakarta—pada tahun  1995. Dede Suhita, founder JCG mencetuskan ide untuk membentuk Death Vomit.  Dengan line-up awal Dede (vokal), Wilman (gitar), Ary (bas), dan Roy (drum), Death Vomit langsung memainkan lagu-lagu mereka sendiri. Tidak lama, Dede keluar. Posisi vokal pun segera diisi oleh Agung (alm).<br /><br />Tahun 1999 Death Vomit merilis album pertama <em>Eternally Deprecated</em>. Menurut Roy, formasi <em>Eternally Deprecated</em> adalah formasi jitu kala itu; yaitu  Agung (vokal), Sofyan (gitar), Aryudha (bas) dan Roy (drum). Album tersebut diproduksi oleh label milik mereka sendiri, Demented Mind Records. Dan terjual mencapai 1500 kopi, yang mana akhirnya membuat label rekaman di Bandung, Extreme Souls Production, tertarik untuk mencetak ulang. Edisi cetak ulangnya bahkan mampu mencapai angka penjualan 2200 kopi. Sampai suatu ketika Agung meninggal, posisi vokal diisi oleh Sofyan merangkap gitar. Tak lama kemudian Aryudha pun keluar dan posisi pemain bas digantikan oleh Oki. Formasi inilah yang kemudian memuntahkan album <em>The Prophecy</em> via Rottrevore Records pada tahun 2006, dan masih bertahan sampai saat ini. Kabar terakhir, selain album baru yang sebentar lagi akan rilis, mereka pun tampil di Australia bulan September ini; salah satunya adalah dalam rangka promosi album baru mereka yang sejatinya memang dirilis oleh label rekaman di Australia—Xenophobic Records. Saat Anda membaca kutipan wawancara di bawah ini, Death Vomit mungkin sedang membuat para metalheads Australia mengguncang-guncangkan kepala bersama hentakan musik mereka.<br /><br />Death Vomit hanya digerakkan oleh tiga orang kini. Vokalis dan gitaris Sofyan, pemain bas Oki, dan pemain drum Roy. Tapi mereka masih intens dalam mempertahankan api kebencian tetap menyala dalam sound maupun performa mereka di panggung.<br /><br /><strong>Apa kabar Death Vomit belakangan ini? Tahun 2006 silam, kalian menyatakan akan mulai rekaman pada tahun 2007. Apa yang kalian lakukan selama tiga tahun ini?</strong><br /><strong>Sofyan (S)</strong>: Setelah <em>The Prophecy</em> keluar ternyata kami merasa masih banyak ketidakpuasan secara materi dan penggarapan album itu secara keseluruhan. Dan ternyata tidak cepat waktu yang kami butuhkan untuk menemukan sesuatu yang bisa menggambarkan Death Vomit secara utuh. Pada 2010 ini kami lebih mematangkan konsep untuk menggambarkan ‘Flames of Hate’ Death Vomit yang sebenarnya.<br /><strong>Roy (R)</strong>: Yap, itu memang rencana kami. Tapi kenyataannya ada hal yang membuat kami memundurkan jadwal rekaman. Setelah merilis <em>The Prophecy</em>, kami mempersiapkan diri untuk membuat konser tunggal yang dirilis dalam format DVD live, Flames of Hate.  Setelah itu pun Sofyan sempat mengundurkan diri yang membuat kami kebingungan mencari pengganti. Hingga Sofyan pun rujuk kembali kepada kami. Mudah-mudahan tahun ini album baru dirilis.<br /><br /><strong>Oya. Bagaimana kabar scene Jogja, terutama death metal?</strong><br /><strong>R</strong>: Scene death metal Jogja tidak lepas dari Jogjakarta Corpse Grinder (JCG), komunitas metal terbesar di Jogja. JCG ini mulai aktif kembali 2 tahun belakangan ini dan cukup memiliki kontribusi melahirkan bibit-bibit dan regenerasi baru death metal. Walaupun komunitas ini juga memiliki band-band black metal, doom, dan grindcore. JCG jugalah yang membuat semua orang di Jogja menjadi senang death metal.<br /><strong>S</strong>: Scene death metal Jogja semakin bagus dan mudah-mudah tetap bisa solid seperti sekarang. Apalagi dengan adanya band-band baru dengan kemampuan mereka yang bagus dan juga loyalitas yang tinggi terhadap musik death metal.<br /><strong>Oki (O)</strong>: Dua tahun terakhir ini adalah tahun yang indah buat scene death metal jogja. Seperti pada awalnya dulu tahun 1994an saat-saat di mana scene death metal Jogja menunjukkan taringnya. Dua tahun terakhir ini banyak bermunculan band-band death metal seperti <a href="http://www.last.fm/music/Deadly+Weapon" class="bbcode_artist">Deadly Weapon</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Detritivor" class="bbcode_artist">Detritivor</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Fornicate" class="bbcode_artist">Fornicate</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Exhumation" class="bbcode_artist">Exhumation</a>, dan lain-lain. Mereka darah-darah muda yang patut diperhitungkan.<br /><br /><strong>Sewaktu scene death metal di Jogja vakum di tahun 2000, kalian sedang apa saat itu?</strong><br /><strong>S</strong>: Kami kebetulan juga lagi berkabung atas meninggalnya vokalis kami, Agung. Selain seorang death metaller, dia juga merupakan penggerak untuk pergerakan scene yang lain seperti hardcore dan punk. Jogja benar-benar kehilangan sosok seperti dia.<br /><strong>O</strong>: Sebenarnya tidak vakum, hanya saja  genre musik selain death metal mendapat angin segar, but we’re still on our way. Saya sendiri sibuk dengan hal-hal yang tidak penting. <br /><strong>R</strong>: Banyak kesibukan di luar band saat itu. Saya sendiri tahun itu jungkir balik lulus dari kuliah dan sempat menjadi pekerja kantoran. Death Vomit bahkan kadang latihan hanya satu kali dalam sebulan. Sedangkan acara didominasi oleh musik yang sedang hip saat itu. Hal ini yang membuat sepertinya scene death metal Jogja vakum tapi sebenarnya masih ada.<br /><br /><strong>Oke. Lalu apa yang kalian lakukan untuk mengembalikan scene death metal seperti sebelumnya?</strong><br /><strong>R</strong>: Eksis! Dalam keadaan apapun, kami berusaha untuk tetap eksis. Sangat susah untuk mempertahankan band death metal di kala scene tak mendukung. Bukan mengikuti tren yang ada, tapi tetap berdiri tegak gagah perkasa di kala scene death metal redup. Ini mungkin yang menjadi cerminan band lain.<br /><strong>S</strong>: Kami akhirnya sadar bahwa musik ini harus tetap ada dan kami tidak mau berlarut-larut dengan kesedihan atas meninggalnya Agung. Dan lagi-lagi butuh proses yang lama untuk langkah kami selanjutnya. Mungkin dengan kembalinya Death Vomit ke scene death metal jogja secara tidak langsung ikut memberikan kontribusi ke pergerakan scene death metal Jogja untuk terus eksis dan solid seperti sekarang ini.<br /><strong>O</strong>: Pribadi, saya biarkan hal itu mengalir saja. Yang bisa kami lakukan hanya berbagi pengalaman, memberikan semangat, dan menancapkan taring lebih dalam untuk membuktikan bahwa Death Vomit masih memiliki sisa waktu yang sangat banyak dari perjalanan karir kami bermain death metal. Hal tersebut sudah sangat cukup untuk membangkitkan scene death metal Jogja.<br /><br /><strong>Seerat apa sebenarnya asosiasi JCG dengan kelangsungan death metal di Jogja, maupun Death Vomit sendiri?</strong><br /><strong>O</strong>: Jogja Corpse Grinder adalah perkumpulan death metal besar di Jogja. Death Vomit sendiri adalah bagian dari Jogja Corpse Grinder. Bahkan bisa dikatakan Death vomit terbentuk karena Jogja Corpse Grinder. Ini adalah fakta yang kita sangat bangga untuk mengakuinya. Jogja Corpse Grinder telah berevolusi dari tahun 1994 hingga kebangkitannya saat ini, menjadikan kami sangat kuat. Begitu pula dengan Death Vomit.<br /><strong>R</strong>: Ibaratnya JCG adalah belahan jiwa Death Vomit. <br /><br /><strong>Bagaimana kalian mendefinisikan death metal, baik itu sebagai musik maupun sebagai a way of life?</strong><br /><strong>S</strong>: Death metal sebagai musik mungkin seperti yang Anda dengar dan Anda pahami melalui musik yang disajikan dan lirik yang diungkapkan. Kalau life style bebas saja, tergantung individu masing-masing bagaimana memaknai death metal itu sendiri. Kalau saya pribadi lebih ke pola pikir, attitude, dan sikap. Bukan hanya sekedar fashion saja.<br /><strong>O</strong>: Bagi saya pribadi, death metal adalah genre extreme dari metal, dengan tempo cepat, kompleks, vokal dan sound yang berat. That’s death metal. Bagi saya death metal tidak hanya sekedar fashion atau trend yang muncul. Namun, merupakan kenikmatan yang akan mengorbankan segalanya dan tidak perduli akibat yang akan terjadi, seperti keseimbangan kanan dan kiri,  yin dan yang. Dan saya selalu berada di posisi yang buruk. Dan saya sangat menikmatinya.<br /><strong>R</strong>: Berlaku layaknya penikmat musik death metal. Senang mendengar, menyimak, menonton acara, dan bangga memakai atribut band kesayangan setiap hari.<br /><br /><strong>Proses pembelajaran seperti apa yang kalian jalani untuk bisa mencapai tingkat skill bermusik seperti sekarang?</strong><br /><strong>S</strong>: Biasa saja, selalu berlatih dan mengolah potensi kami, serta lebih tajam dalam mengamati perubahan yang terjadi agar konsep musik, selalu stabil, dan tidak ikut arus terhadap perkembangan musik metal sekarang.<br /><strong>O</strong>: Saya pribadi tidak pernah dan tidak terpikirkan untuk melakukan suatu program bla bla bla untuk mencapai tujuan tersebut. Semua saat itu mengalir begitu saja. Dan apapun yang kita lakukan apabila kita menyenanginya akan sangat nikmat ketika menjalaninya. Meski terkadang perjalanan tidak selalu mulus.<br /><strong>R</strong>: Death Vomit bukanlah band yang memiliki skill tinggi. Jujur, Death Vomit adalah band yang beruntung. Saya beruntung memiliki Sofyan dan Oki yang membuat Death Vomit seperti sekarang. Kami beruntung memiliki pengalaman selama limabelas tahun yang membuat kami semakin solid dan kuat. Itu saja.<br /><br /><strong>Tapi tidak mungkin juga tanpa skill kalian bisa dipertimbangkan sebagai sebuah band death metal yang besar. </strong><br /><strong>S</strong>: Teknikalitas tentu saja harus didukung dengan skill dan stamina yang bagus, menjiwai, dan memberikan nyawa terhadap lagu. Sehingga konsep yang dibawakan benar-benar terwujud dan pemilihan karakter sound yang tepat untuk mendukung konsep lagu tersebut.<br /><br /><strong>Seperti apa metode kalian membuat konsep lagu?</strong><br /><strong>O</strong>: Rahasia... [tertawa]<br /><strong>S</strong>: Biasanya kami mulai dengan membuat pattern drum mentah, kemudian memasukkan riff-riff gitar dan bas. Setelah instrumen jadi baru masuk pattern vokal. Setelah seluruh elemen lagu jadi, kami kadang merekam lagu tersebut untuk kami revisi sekali lagi, dan menambahkan fill-fill yang kami anggap mampu memberikan nuansa agar lagu tersebut jadi lebih hidup.<br /><br /><strong>Lalu Sofyan yang menulis lirik. Dari mana inspirasinya?</strong><br /><strong>S</strong>: Sebagian besar adalah merupakan imajinasi saya yang sesuai dengan konsep Death Vomit yaitu “Flames of Hate”. Semua yang saya tulis adalah penggambaran dari sosok Death Vomit sendiri. Saya lebih bangga menulis tentang band kami daripada hanya bualan kosong belaka.<br /><br /><strong>Masih tentang Anda. Tehnik vokal growl Anda benar-benar killer! Apa resepnya bisa memiliki suara seperti itu?</strong><br /><strong>S</strong>: Thanks. Sebenarnya tidak ada resep khusus untuk growl seperti itu. Hanya kebiasaan saja. Saya sering berlatih dengan melafalkan dan menirukan vokal band-band favorit saya seperti <a href="http://www.last.fm/music/Malevolent+Creation" class="bbcode_artist">Malevolent Creation</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Cannibal+Corpse" class="bbcode_artist">Cannibal Corpse</a> era Chris Barnes, <a href="http://www.last.fm/music/Suffocation" class="bbcode_artist">Suffocation</a>, dan <a href="http://www.last.fm/music/Deicide" class="bbcode_artist">Deicide</a>.<br /><br /><strong>Roy Agus selain dikenal sebagai pemain drum Death Vomit juga punya usaha merchandise. Bisa ceritakan soal itu?</strong><br /><strong>R</strong>: Awalnya salah satu brand merch menitipkan kaos untuk dijual di daerah Jogja dan sekitarnya. Setelah itu banyak yang mulai menitipkan barang-barangnya lewat saya. Keterusan sampai sekarang. Lumayan bisa menghidupi kebutuhan saya sehari-hari.<br /><strong>S</strong>: Semua merchandise Death Vomit juga dia yang handle.<br /><br /><strong>Nah, selain kegiatan di scene, baik itu bermusik maupun merchandising, apakah kalian juga memiliki kehidupan seperti masyarakat normal?</strong><br /><strong>S</strong>: Tentu saja kami punya kehidupan yang normal. Saya dan Oki bekerja, Roy juga ada usaha merchandise. Kami sadar tidak bisa menggantungkan hidup dan masa depan kami dari band ini. Bagi kami, main death metal adalah hobi tapi diseriusi dan digarap dengan profesional.<br /><strong>R</strong>: Jikalau kehidupan seperti masyarakat normal yang dimaksud seperti pekerja kantoran, saya berarti bukan masyarakat normal. [tertawa] Kegiatan saya sebagian besar berhubungan dengan scene.<br /><br /><strong>Bicara soal album lagi. Kenapa lama sekali rentang waktu perilisan album <em>The Prophecy</em> (2006) semenjak <em>Eternally Deprecated</em>?</strong><br /><strong>R</strong>: Lamanya dari Eternally ke Prophecy karena salah satunya selain bekerja juga sempat down dengan meninggalnya Agung.<br /><strong>O</strong>: Kami sepakat ingin membuat materi yang lebih agresif namun tidak terlepas dari konsep kami bertiga, dan tetap pada benang merah. Bukan hal mudah untuk mendapatkan dan memahami chemistry dari masing-masing player dalam waktu singkat.<br /><strong>S</strong>: Sangat kompleks dan berat cobaan pada kami terutama dengan pergantian personel dan meninggalnya Agung. Ditambah lagi dengan perubahan konsep lama era <em>Eternally Deprecated</em> dengan konsep yang ada di <em>The Prophecy</em>. Selain konsep dan struktur lagu, kami juga ingin <em>The Prophecy</em> bisa menjadi pembuktikan bahwa Death Vomit masih ada. Tidak bubar seperti ramalan atau prophecy orang-orang.<br /><br /><strong>Sudah sejauh apa proses penggarapan album ketiga?</strong><br /><strong>S</strong>: Untuk materi album baru nanti sudah delapanpuluh persen fix. Rencana kami akan merekam delapan sampai sembilan lagu dengan durasi yang lebih lama dari <em>The Prophecy</em>. Sementara ini sudah ada dua lagu yang kami rekam dalam bentuk rehearsal, yaitu “Redemption” dan “Transgression”.<br /><strong>O</strong>: Rencana kita nanti akan langsung double album plus bonus rumah mewah apabila menjadi pembeli pertama. [tertawa] Bercanda. [tertawa]<br /><br /><strong>Recording, mixing, serta mastering di mana?</strong><br /><strong>S</strong>: Rencana album ini direkam di Indonesia tapi mixing dan mastering di Australia yang dipercayakan Xenophobic kepada Joe Haley, drummer <a href="http://www.last.fm/music/Psycroptic" class="bbcode_artist">Psycroptic</a>.<br /><br /><strong>Akan seperti apa musiknya?</strong><br /><strong>R</strong>: Mungkin lebih berat dari <em>The Prophecy</em>. Lagu-lagu baru lebih mencerminkan isi hati bermusik kami bertiga. Semoga tidak mengecewakan.<br /><strong>S</strong>: Yang jelas akan semakin membuat konsep kami ‘Flames of Hate’ menjadi benar-benar hidup. Kebetulan kami suka memainkan musik yang agresif dengan kombinasi tempo yang berubah-ubah. Mungkin seperti itulah konsep yang kami sajikan dalam album baru nanti.<br /><strong>O</strong>: More power, more aggressive, lebih kejam dari album sebelumnya. <br /><br /><strong>Apakah album tersebut juga akan lebih banyak untuk distribusi di luar negri, seperti album <em>The Prophecy</em>?</strong><br /><strong>S</strong>: Sebenarnya kami tidak hanya memprioritaskan distribusi internasional, karena distribusi di Indonesia juga hal yang utama. Kami hanya ingin menjangkau lebih luas untuk distribusi internasional dibandingkan dengan distribusi <em>The Prophecy</em>.<br /><br /><strong>Kalian mendapat undangan tampil di Australia, ya? Bisa ceritakan soal itu?</strong><br /><strong>S</strong>: Kami akan bermain di tujuh kota di benua Australia nanti. Kesempatan ini kami dapatkan dari label kami, Xenophobic Records. Mereka lah yang membawa kami ke Australia nanti.<br /><strong>R</strong>: Betul sekali. Semoga menjadi kenyataan dan jika terjadi ini merupakan pengalaman pertama kami tampil di luar. Salah satunya kita akan main di Perth Death Fest. Banyak band-band lokal sana yang akan tampil tentunya. Kami butuh doa dan support dari semua teman kami di Indonesia, semoga terwujud.<br />__<br /><br /><strong><em>Wawancara dengan Death Vomit ini dilakukan pada bulan Agustus 2010, sebelum Death Vomit berangkat tur ke Australia. Rencananya akan menjadi artikel wawancara untuk dimuat pada salah satu majalah rock. Penerbitan majalah itu bangkrut, artikel ini jadi tidak terpakai.</em></strong></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>[Feature: Antiseptic] You Have To Finish What You Started! -- in Bahasa Indonesia</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/01/46zd3a_%5Bfeature:_antiseptic%5D_you_have_to_finish_what_you_started!_--_in_bahasa_indonesia</link>
         <pubDate>Tue, 1 Feb 2011 20:26:00 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/02/01/46zd3a_%5Bfeature:_antiseptic%5D_you_have_to_finish_what_you_started!_--_in_bahasa_indonesia</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><strong>Pertarungan <a href="http://www.last.fm/music/Antiseptic" class="bbcode_artist">Antiseptic</a> sebagai band hardcore punk pertama di Jakarta, serta menjaga kelangsungan hidup selama duapuluh tahun.</strong><br /><br /><strong>Oleh Rama Wirawan * Foto oleh Rizki Apriliyarso</strong><br /><br /><img src="http://www.freeimagehosting.net/uploads/0820aea139.jpg" /><br /><br />Bangunan dua lantai itu berdiri di jalan Benda Raya, Kemang, salah satu kawasan glamor di Jakarta. Dari luar ia terlihat cukup mewah. Di malam hari, cahaya lampu neon berwarna agak kuning berpendar ramah, membuat warna cat tembok lantai dasar yang dijadikan distro itu tampak mahal. Ketika kita masuk melalui pintu hidroliknya, hawa sejuk yang mengalir dari pendingin-ruangan memberi perasaan nyaman. Di sana kita bisa menjumpai begitu banyak barang yang akan membuat seorang pecinta musik rock menelan air liurnya sendiri berkali-kali jika melihatnya. Vinyl-vinyl berdiri saling tertumpuk di salah satu rak yang menghadap ke pintu masuk. Ada <em>Out of Step</em>-nya <a href="http://www.last.fm/music/Minor+Threat" class="bbcode_artist">Minor Threat</a>, <em>Everything Went Black</em>-nya <a href="http://www.last.fm/music/Black+Flag" class="bbcode_artist">Black Flag</a>, <em>The Crew</em>-nya <a href="http://www.last.fm/music/7Seconds" class="bbcode_artist">7Seconds</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Venom" class="bbcode_artist">Venom</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Rush" class="bbcode_artist">Rush</a>, serta <a href="http://www.last.fm/music/Duran+Duran" class="bbcode_artist">Duran Duran</a>; dan itu baru beberapa.<br /><br />Kaos-kaos impor dari band-band luar negeri dengan artwork yang jarang ada, menggantung rapi di sisi kanan dan kiri, menggoda mata pembelanja. Itu belum semua. Di atas salah satu rak yang lain, berdirilah action figure vokalis the <a href="http://www.last.fm/music/Sex+Pistols" class="bbcode_artist">Sex Pistols</a> <a href="http://www.last.fm/music/Johnny+Rotten" class="bbcode_artist">Johnny Rotten</a>, juga The Queen of Porn Jenna Jameson yang pada kotaknya bertuliskan: “Pakaiannya bisa dibuka! Benar-benar detil!”—dalam bahasa Inggris. Sementara di tempat lain yang belum disebutkan, gulungan-gulungan poster dari aneka band menunggu seorang mengambilnya, lalu menempelkannya di tembok kamar dengan perasaan bangga. Ini memang surga kecil rock n’ roll.<br /><br />Dari koridor penghubung ke tangga untuk naik ke lantai dua, seorang laki-laki bertato pada lengan kirinya keluar dengan gaya pakaian yang sederhana—kontras dengan gaya interior distro itu. Ia tampak tidak terlalu antusias untuk berbasa-basi dengan orang yang baru ditemuinya. Jika kita acuhkan, ia pun akan berlalu begitu saja. Namun, apabila disapa, ia akan memberikan senyuman terbaiknya, meski terasa masih ada sedikit canggung di sana. Orang itu adalah Berry Akbar; salah satu pendiri dan sekaligus vokalis Antiseptic. Red 13 tak ubahnya telah menjadi rumah bagi Berry. “Gue tiap menit ada di sini,” aku Berry Akbar. <br /><br />Menelusuri koridor itu, kita akan dituntun ke  lantai dua, di sana lah sebuah studio musik yang cukup leluasa berada. Saya duduk di lantai berlapis kayu, di hadapan lima laki-laki yang duduk membelakangi perangkat drum dan tidak tampak terlalu berharap untuk diwawancara. Terlebih Berry, setiap gestur tubuhnya maupun ucapannya menunjukan ia tidak terlalu peduli pada apa yang nantinya akan saya tulis. “Dari mulai Red 13 di jalan Bangka, gue sudah tinggal di toko. Karena gue nggak ingin menyia-nyiakan… Maksudnya untuk apa gue ngekost, untuk apa gue menyewa rumah? Dan gue nggak peduli tidur di mana saja, pokoknya ada tempat saja. Jadi ya gue homeless,” vokalis Antiseptic itu kemudian tertawa.<br /><br />Antiseptic telah berkecimpung selama dua dekade di dalam skena musik hardcore punk. Dalam durasi sepanjang itu, adalah sesuatu yang logis jika hampir tak ada hal baik dan buruk yang belum pernah mereka alami. Mengacu ke pernyataannya barusan, soal ketidakpedulian dia untuk tidur di mana saja, itu bukan sebuah omong kosong. Berry pernah mengalami kerasnya hidup di jalanan—berkelahi dengan suatu kelompok punker, mengalahkan ketua salah satu gank fashion-punk hingga memberinya tindikan di kepala. Bahkan, catatan buruk yang terakhir, Berry pernah berada dalam keadaan tak sadarkan diri selama enam bulan. “Kenapa kita menulis tentang jalanan dan segala macam? Karena kita mengalami seperti itu. Kita mengalami semuanya,” tegas Berry. “Walaupun kita bukan seperti anak-anak jalanan sekarang, tapi kita mengalami hidup di jalanan, tidur di jalanan, mabuk di jalanan; itu kita benar-benar mengalami. Bukan cuma ngomong doang. Kita mengalami yang namanya berantem di jalanan.”<br /><br />Itu belum termasuk pengalamannya hidup selama tiga tahun di Sydney, Australia; menyambangi daerah-daerah yang dilarang untuk didatangi oleh orang asing, tinggal di daerah punk dan skinhead, atau ikut bergaul dan mabuk-mabukan bersama suku Aborigin.<br /><br />“Sampai akhirnya gue main di Seventies, itu terakhir kali gue mabuk,” Berry berkisah. “Gue janji itu terakhir mabuk, gue nggak akan mabuk lagi walaupun cuma bir. Tapi gue puas-puasin malam itu. Gue pingsan di acara itu. Gara-garanya gue stage diving, nggak ada yang nangkep, pingsan gue!”<br /><br />Momen itu bisa disebut sebagai titik balik kehidupan Berry, karena tak lama kemudian pada akhir tahun 2008 ia diajak oleh seorang seniman tato—yang sudah lama ia kenal—bernama Naomi untuk menjadi manajer studio tatonya. “Setelah merasa bahwa gue harus punya sesuatu yang lain, namanya hidup kan harus ada perkembangan, kalau nggak ada perkembangan buat apa kita hidup? Nah, gue memulai sesuatu yang baru dalam hidup gue,” tutur Berry bijak.<br /><br />Berry bercerita, “Red 13 itu studio tato yang sudah ada dari tahun 2006, dengan artis tato-nya Naomi. Tempatnya pindah-pindah. Dulu gue suka nongkrong di Red 13. Sampai akhirnya gue menggantikan posisi manajer yang lama. Lalu gue mulai me-manage dan buka Red 13 di tempat baru, di jalan Bangka Raya (di tahun 2008—red). Bisnis tato gue mix dengan bisnis musik. Jadi selain gue manajer tato, gue juga punya record shop. Jadi setengah Red 13 punya gue. Terus gue mulai malas mengurus record shop, akhirnya gue jual record shop gue ke Randy yang pada saat itu ingin memulai usaha. Akhirnya berdirilah Red 13 baru di jalan Benda Raya, dengan tato, record shop, dan studio musik sebagai bentuk usahanya. Nggak lama kemudian Acid bergabung kerja sebagai karyawan di Red 13, dengan Randy sebagai owner-nya.” <br /><br />Meski tampak tidak terlalu peduli, jika sudah mulai bercerita Berry akan berbicara nyaris tanpa putus, dan menceritakan apa saja yang dia ingat sampai merasa puas, atau kita yang memotongnya. Judul wawancara dengan Berry yang ditulis oleh Ginger Coyote dari Punk Globe—sebuah fanzine sejak tahun 1977, yang berbasis di Los Angeles, California—tampaknya tepat untuk mendeskripsikan dirinya. <em>Berry Septic Singer For Jakarta’s Antiseptic Tells All</em>, begitu judul wawancara tersebut.<br /><br />Seperti yang disebutkan oleh Berry, selain distro—yang juga mencakup record shop—di tempat ini tersedia studio tato dan studio musik. Kemudian, nama-nama yang disebutkan Berry tadi adalah sebagian dari kawan-kawan di band-nya. Acid adalah gitaris, Randy yang kini memegang kendali pada drum, dan Naomi merupakan pemain bas sekaligus personil terbaru di band ini. Ada satu nama lagi yang tidak disebutkan oleh Berry dalam ceritanya tadi, dia adalah Josi, pemain gitar—yang pernah mengisi posisi vokalis ketika Berry berada di Sydney selama tiga tahun. “Josi nggak bergabung di Red 13. Dia ada pekerjaan lain,” jelas Acid singkat.<br /><br />“Istilahnya ada wadah kan, kenapa nggak dipergunakan saja sekalian? Buat bisnis juga, buat kumpul juga, jadi band juga ketahuan ada tempatnya. Kalau dulu kan latihan di mana-mana,” imbuh Acid kemudian. “Sekarang ada tempat ini, ada bisnis seperti ini, ya sudah.”<br /><br />Mereka yang baru lahir di era ‘90an ada kemungkinan tidak pernah mendengar nama Antiseptic. Atau mungkin pernah mendengar, namun tidak tahu lagu-lagu mereka. Tapi mereka yang di jaman itu sudah rajin menyambangi Bulungan, mungkin sempat menyaksikan Antiseptic membakar poster <a href="http://www.last.fm/music/New+Kids+On+The+Block" class="bbcode_artist">New Kids On The Block</a> di panggung, di akhir tahun 1990, pada salah satu gig metal. Itu adalah gig pertama mereka. Untuk ukuran saat itu hal tersebut terbilang aneh—sebuah band hardcore punk tampil di acara metal. Namun, jika bukan mereka yang memulainya saat itu, barangkali hingga sekarang hardcore punk belum mendapatkan tempat dalam skena musik bawahtanah di Jakarta. Dengan catatan itulah Antiseptic dipertimbangkan sebagai band hardcore punk pertama di Jakarta. “Itu semua orang kaget. Satu GOR Bulungan semuanya metal, kita membawakan hardcore punk. Semua orang gondrong, kita botak. Ya, gue botak kalau dia (Acid) nggak,” kisah Berry mengenai hari yang bersejarah itu. “Asli, itu semua orang ketawa, ada yang kaget, ada yang bingung. Serius!”<br /><br />Hanya didukung oleh kurang lebih duabelas orang—salah satu yang ada di sana adalah Lukman “Buluk” (<a href="http://www.last.fm/music/Superglad" class="bbcode_artist">Superglad</a>), yang di kemudian hari sempat menjadi personil Antiseptic—mereka tampil membawakan lagu-lagu dari band-band seperti <a href="http://www.last.fm/music/Gang+Green" class="bbcode_artist">Gang Green</a>, the Sex Pistols, the <a href="http://www.last.fm/music/Misfits" class="bbcode_artist">Misfits</a>. Hari itu mereka juga membawakan lagu <a href="http://www.last.fm/music/Napalm+Death" class="bbcode_artist">Napalm Death</a>. “Biar lebih akrab,” Berry tertawa.<br /><br />“Di awal-awal kita seperti mencari sesuatu. Bosan dengan keadaan, mencari sesuatu yang baru. Makanya kita memulai aliran musik baru yang pada saat itu belum ada di Indonesia,” kata Berry. “Lepas dari metal, walaupun nggak lepas dari komunitasnya, tapi kita sudah nggak memainkan metal. Kita mulai memainkan musik baru, hardcore punk.”<br /><br />Berry Akbar sendiri membuka kesempatannya menjadi seorang vokalis band hardcore punk yang ugal-ugalan saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kala itu, sebagai seorang anak muda yang cenderung menyendiri dan pada saat yang sama memiliki sifat pembangkang, ia sering menyambangi Pid Pub di Pondok Indah—yang ia ketahui dari pembicaraan orang-orang di tempat tersebut berlangsung acara musik metal tiap malam Minggu—hanya bertemankan sebotol minuman keras. Di sana lah ia bertemu dengan Acid, yang saat itu masih duduk di bangku SMP. “Gue lagi bolos, lagi cabut dari sekolah, gue main ke Dwima,” Acid angkat bicara lagi. “Dwima itu dulu kafe Pid Pub. Kalau siang banyak yang main skate board di sana, minum. Gue ketemu dia (Berry). Dia ngajakin minum.”<br /><br />“Gue dari SD (Sekolah Dasar—red) udah ada sifat rebel-nya, nggak mau sama dengan anak-anak lainnya. Teman-teman gue mendengarkan lagu-lagu anak-anak, gue sudah mendengarkan <a href="http://www.last.fm/music/The+Beatles" class="bbcode_artist">The Beatles</a>, <a href="http://www.last.fm/music/The+Rolling+Stones" class="bbcode_artist">The Rolling Stones</a>; ketika SMP mulai tahu <a href="http://www.last.fm/music/Iron+Maiden" class="bbcode_artist">Iron Maiden</a>, Rush. Gue orangnya nggak ingin sama,” kata Berry. “Jadi di saat gue melihat tren pada saat itu, gue berusaha mencari yang lain untuk anak-anak seumuran gue pada saat itu.”<br /><br />Berry merasa menemukan teman sebayanya pada diri Acid dan kawan-kawannya. Dan ia pun mulai mengajak Acid untuk ikut meminum apa yang ia minum. Karena Berry merasa tidak bisa berbaur dengan para pendahulunya. “Yang lain kan udah tua-tua. Kayak <a href="http://www.last.fm/music/Sucker+Head" class="bbcode_artist">Sucker Head</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Roxx" class="bbcode_artist">Roxx</a>; semuanya udah tua-tua. Kayaknya nggak nyambung aja,” kenang Berry.<br /><br />Setelah perkenalan itu, pertemuan mereka berikutnya terjadi pada acara-acara musik. Yang pertama disebut oleh Berry adalah acara yang diadakan di sebuah kebun kosong, selenggaraan sebuah “organisasi metal, namanya Mortor. Organisasi metal pertama di Indonesia, kalau menurut gue. Thrash metal. Gue dan dia (Acid) itu anggotanya. Gue ikut, gue gabung. Karena memang gue dalam posisis mencari teman,” kenang Berry. “Itu kayaknya seleksi untuk acara Mortor pertama. Yang bagus main di acara Mortor pertama di Bulungan.”<br /><br />Pada gig berikutnya barulah peristiwa yang legendaris itu terjadi. Yakni ketika Acid dan bandnya tampil pada suatu acara yang berlangsung di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Berry tidak menjadi bagian band tersebut. Tapi Berry ada di sana. Dan dia dalam keadaan mabuk, sampai akhirnya tidur sembarangan. “Tahu-tahu gue dibangunkan oleh teman gue. Katanya, ‘Heh! Lo kan hapal lagu “Fuck The U.S.L.”’ Personil band dia (Acid) nggak ada yang hapal lagu “Fuck The U.S.L.” Terus dia nanya ke penonton, ada yang hapal nggak? Nah, teman-teman gue ingat kalau gue hapal,” kisah Berry.<br /><br />Akhirnya dalam keadaan mabuk Berry naik ke atas panggung. Dan dengan aksi panggungnya yang liar—atau mungkin lebih tepatnya dalam keadaan nyaris tak sadar—ia menyanyikan “Fuck The U.S.L.” dan membuat posisi tata suara berantakan. “Itu bikin kaget, karena pada saat itu belum ada aksi panggung seperti itu,” katanya semangat.<br /><br />Hari itu disebut-sebut sebagai hari kelahiran Antiseptic. Selepas penampilan mereka, Acid yang tertarik dengan aksi panggung Berry, mengajaknya untuk membentuk sebuah band baru. Malam itu juga, Berry segera mencari personil lainnya. “Kita ketemu Codot. Codot main bas, sama Erik main drum. Jadilah itu, dulu namanya Dickhead,” tutur Berry.<br /><br />Sebelum memporak porandakan panggung di IKJ, dengan yakin Berry mengatakan, belum ada yang membawakan musik seperti mereka. Antiseptic menjadi semacam antidot bagi musik Indonesia pada saat itu, yang sudah ‘diracuni’ terlebih dahulu oleh thrash metal dan death metal. Namun, nama itu—Antiseptic—tercetus pertama kali setelah Berry merasa malu dengan nama Dickhead. Sebagai  satu-satunya personil yang berkepala botak licin, kemudian nama Dickhead malah menjadi boomerang bagi dirinya. Ia mendapatkan julukan dickhead, yang diartikan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, nama Dickhead diyakini oleh Berry dan Acid sebagai sesuatu yang membawa nasib buruk. Dengan nama Dickhead, band mereka selalu batal tampil lantaran tidak pernah lulus seleksi, atau pun karena terjadi keributan di acara. Nama Antiseptic diperoleh oleh Berry secara tidak sengaja ketika sedang mengobati luka di kakinya, dan ia membaca kata itu pada botol obat yang ia pegang. Tergugah oleh nama band punk rock perempuan pada saat itu, <a href="http://www.last.fm/music/Toilet" class="bbcode_artist">Toilet</a>, yang menurutnya keren, Berry yakin untuk memakai Antiseptic sebagai nama pengganti Dickhead. “Percaya nggak? Nama band itu berpengaruh buat kelanjutan band itu nantinya,” ujar Berry. “Nah, gue mencarinya yang seperti itu. Gampang diingat, semua orang tahu, dan mudah diartikan ke bahasa Inggris dan Indonesia.”<br /><br />Gig lain yang selalu diceritakan Berry dengan semangat ialah acara yang berlangsung di Granadha pada tahun 1991. Pada hari itu, dimana mereka bermain satu panggung dengan Toilet, sesuatu yang absurd terjadi. Sekitar limapuluh orang yang ketika itu sudah menantikan penampilan mereka, melakukan sesuatu hal yang tidak akan pernah masuk di akal. Mereka saling melempar kursi ke udara, menciptakan kekacauan sepanjang Antiseptic tampil. Hingga akhirnya pertunjukan harus berakhir karena dihentikan oleh polisi. Nama band mereka dicatat, dan mereka di-banned dari acara-acara musik metal di manapun. Acid bercerita, “Itu sama sekali nggak latihan. Waktu itu si Erik (pemain drum) nggak datang. Dari situlah Robin (almarhum) masuk.”<br /><br />“Jadi kalau Septic itu, selain gue sama dia (Acid) itu banyak banget yang keluar masuk,” ungkap Berry. “Ada yang main cuma sekali, ada yang cuma latihan, ada yang latihan gagal.”<br /><br />Di masa awal terbentuknya, memiliki album adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh band ini. Sehingga gonta-ganti personil pun menjadi wajar bagi mereka yang notabene tidak memiliki visi jauh ke depan. Sebelum album pertama rilis saja, ada sekian banyak nama yang pernah singgah ke dalam band ini, di antaranya: Lukman “Buluk” (Superglad), Gandung (<a href="http://www.last.fm/music/Suri" class="bbcode_artist">Suri</a>), dan almarhum Robin Hutagaol (<a href="http://www.last.fm/music/Noxa" class="bbcode_artist">Noxa</a>). “Buat kita yang pertama itu fun. Walaupun kita bukan band fun, tapi kita fun saja,” kata Berry.<br /><br />Bagi mereka keributan dan perkelahian dalam gig—maupun di luar gig—adalah sesuatu yang bisa dinikmati. Kenyataannya, hampir tidak ada gig Antiseptic tanpa kekerasan. “Mungkin 70 persen dari acara Septic itu pasti berantem dan berhenti sebelum saatnya,” ujar Berry.<br /><br />Selain peristiwa Granadha, Antiseptic juga pernah membuat ulah di Bandung. Yaitu pada acara Hullabaloo yang pertama—tahun 1993. Itulah pertama kalinya Josi bergabung bersama Antiseptic sebagai pemain drum. Ucapan provokatif Berry memancing emosi penonton dan menyulut kekacauan. Hingga akhirnya mereka menjadi bahan pembicaraan di radio Bandung pada malam harinya; yang tentu saja dalam konteks yang buruk. “Kalau gue bilang, itu murni teenage riot, teenage rebellion. Yang memang, sifat rebel, dimiliki sama anak-anak umur belasan tahun,” jelas Berry. “Buat kita pada saat itu kerusuhan dan keributan adalah olahraga. Karena gue nggak suka olahraga yang beneran. Jadi olahraga buat gue adalah moshing, pogo, berantem—itulah olahraga buat gue.”<br /><br />Satu hal yang tak dapat dihindari Antiseptic sebagai band yang semakin menjadi bahan pembicaraan: pendukung mereka semakin bertambah dari hari ke hari. Dimulai dari sekitar duabelas orang ketika mereka pertama kali tampil dengan nama Antiseptic di Bulungan, kemudian menjadi limapuluhan orang saat mereka memporak-porandakan Granadha, hingga mereka bisa diundang untuk tampil di acara Hullabaloo, Bandung. Mengenai predikat spreading hardcore punx yang tertulis pada biografi Antiseptic pada situs resmi mereka, <a href="http://www.septicrew.com" rel="nofollow">www.septicrew.com</a>, Berry menjelaskan, “Antiseptic itu kan band hardcore punk pertama di Indonesia. Jadi kita memulai dari awal banget, dari belum ada hardcore dan punk di Indonesia. Dengan satu orang ikut kita, dua orang ikut kita, lima orang ikut kita, sepuluh orang ikut kita.”<br /><br />Namun, Berry melewatkan masa-masa penting Antiseptic—yakni  ketika band ini melahirkan album pertamanya, <em>Finally</em>, pada tahun 1997. Di tahun 1995, ia berangkat ke Sydney, Australia, karena diharuskan memulai kehidupan yang lebih positif oleh orangtuanya. “Sebenarnya gue ke Australia itu, dibuang,” ucap Berry serius. Tapi Randy saat itu yang duduk di samping kirinya tertawa. Kemudian Berry melanjutkan, “dibuang sama bokap gue. Jadi gue kuliah di UNAS, tapi nggak pernah kuliah. Kerjaan gue: datang ke kampus, mabuk, pulang. Mabuk, pulang. Nggak pernah kuliah.”<br /><br />Berry menetap selama tiga tahun di Sydney. Meski pada akhirnya, ia tidak menjalani masa-masa pendidikan seperti yang orangtuanya harapkan. Ia menghabiskan tiga tahun untuk mendalami punk dan hardcore. Bergaul dengan kelompok punk, hardcore, skinhead; membeli buku dan membacanya; menyaksikan band-band favoritnya, mulai dari <a href="http://www.last.fm/music/Agnostic+Front" class="bbcode_artist">Agnostic Front</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Fugazi" class="bbcode_artist">Fugazi</a>, sampai The Sex Pistols; serta mengoleksi CD seperti yang dilakukan oleh semua fanatik. “Oke, gue nggak mendapat gelar di Australia. Tapi kalau hardcore punk, gue S3,” ucap Berry yakin.<br /><br />Sebenarnya ketika Berry pergi, atas sarannya, band ini hampir saja berubah nama menjadi Dirty Boots. Tapi lantaran merasa kepalang tanggung sudah berjalan dengan nama Antiseptic selama lima tahun, akhirnya hal tersebut tidak terwujud. Antiseptic pun merilis album perdana, dengan Josi dan Randy menggantikan posisinya. Posisi drum diisi oleh Wawan, sedangkan bas oleh Rendy—yang biasa mereka panggil dengan nama Black. Sementara Acid, pendiri band ini di samping Berry, tetap ada di sana. Acid menceritakan kembali pertemuannya dengan Randy, <br /><br />“Pertamanya, tinggal gue berdua doang sama dia (Josi). Setelah itu gue ketemu dia (Randy), dia nongkrong di Menteng. Masih SMP dia, nyeker (tidak mengenakan alas kaki—red). Dia udah tatoan, wah keren.” Sementara Rendy (Black) dan Wawan adalah dua orang yang sering menyaksikan Antiseptic tampil. Setelah mereka melihat penggemar semakin bertambah, dan juga bersamaan dengan semakin banyaknya tawaran untuk tampil di acara-acara, Antiseptic akhirnya merilis <em>Finally</em> sebanyak 3000 kopi, masih dalam format kaset. “Bisa membuat album itu karena anak-anak menabung dari tahun 96 sampai tahun 97. Hasil main dipotong berapa persen,” jelas Acid.<br /><br />Tahun-tahun itu, menurut Berry, memang tahun-tahun yang kondusif untuk pergerakan musik bawahtanah. Acara musik indie sedang marak-maraknya diadakan. Antiseptic bisa tampil dua atau tiga kali dalam sehari di acara yang berbeda. Hal ini pula yang mengejutkannya ketika ia kembali ke Indonesia, pada tahun 1998. Dimana ketika ia mengambil lagi posisinya sebagai vokalis band pada suatu acara di Universitas Jayabaya—yang notabene ketika itu Randy tidak dapat bergabung lantaran harus mendekam di bui—ia menemukan bandnya didukung oleh sekitar 1000 orang penonton. “Acara-acara punk udah mulai didatangi ribuan penonton, itu kayaknya sukses kan? Spreading-nya sukses,” Berry berbinar.<br /><br />Album kedua, <em>Call It Whatever You Want</em>, yang rilis di tahun 2004, disebut Berry sebagai album gagal. Meski ia juga mengakui bahwa materi album tersebut tidak bisa disebut buruk. Tapi album ini lahir di penghujung masa kelam yang mereka alami. Mulai dari Randy yang masuk bui; semua personil terjerumus ke penggunaan narkoba, sehingga masing-masing memiliki dunia sendiri; dan Berry yang meski pun selamat dari jeratan narkoba karena menikah dengan Rika (gitaris Toilet) di tahun 1999, namun bercerai di tahun 2004. Singkatnya, album ini tidak lahir dalam suasana yang kondusif. Karena itulah, album yang hanya dirilis 300 kopi itu memiliki sampul berwarna hitam. “Kalau gue bilang, tahun 2004 itu sebenarnya Septic sudah hancur,” aku Berry. “Setelah gue bercerai, keinginan gue untuk nge-band timbul lagi. Akhirnya Gue mulai me-manage Septic. Gue mulai nongkrong di mana-mana buat cari link lagi, karena orang sudah lupa sama Septic.”<br /><br />Saat itu Berry sebenarnya merasa sudah putus asa dengan band-nya, sejak ia melihat semua sudah kacau balau. Tapi ia memutuskan untuk tetap meneruskannya mengingat umur band ini sudah berjalan empatbelas tahun. Sejalan dengan upayanya mencari link, ia pun mulai membuat akun Myspace untuk Antiseptic sejak saat itu, serta menuliskan siapa saja band yang menjadi influence mereka di sana; seperti yang lumrah dilakukan oleh band-band lain. Hal itulah yang kemudian menarik perhatian salah satu band yang ia jadikan influence untuk menambahkan Antiseptic sebagai teman Myspace-nya; <a href="http://www.last.fm/music/A.M.Q.A." class="bbcode_artist">A.M.Q.A.</a> Tidak lama setelah itu, <a href="http://www.last.fm/music/The+Dehumanizers" class="bbcode_artist">The Dehumanizers</a> melakukan hal yang sama. Barulah kemudian label rekaman yang menaungi album <em>The First Five Years (Of Drug Use) Anthology</em> milik The Dehumanizers—Portnow Intertainment Group (P.I.G.), Amerika Serikat—yang kemudian datang dan menambahkan Antiseptic sebagai teman maya. “Nggak lama setelah dia meng-add gue, langsung dia ‘ngasih message ke gue: ‘lo mau nggak gue rilis?’” Berry berkisah. “Mereka (P.I.G.) cerita: ‘yang pertama membuat gue tertarik sama lo, itu karena gue membaca history lo. Lo itu bukan band biasa. Dengan history seperti ini, inilah band yang gue cari. Dan lo punya sejarah, karena lo memulai scene di suatu tempat.”<br /><br />Berry terkejut mendapatkan tawaran dari label rekaman yang menaungi band-band favoritnya, hingga akhirnya ia pun mengiyakan tawaran itu. Tapi proses hingga akhirnya album tersebut digarap dan dirilis memakan waktu relatif lama. Hal itu dikarenakan di saat yang sama beberapa personil Antiseptic saling bergantian masuk bui. Untunglah, P.I.G. bersedia menunggu dengan sabar sampai Antiseptic bisa menyelesaikan proses rekamannya. Namun demikian, kesabaran memang ada batasnya. Di tahun 2008, David Portnow dari P.I.G. memberikan ultimatum terakhir pada Antiseptic. Akhirnya Berry mengatakan hal ini kepada Portnow, “Ya sudah, gitaris gue bulan depan sudah mau keluar (penjara—red). Gue harap nggak akan ada kasus lagi. Kasih gue waktu tiga bulan.”<br /><br />Diberi waktu tiga bulan, Antiseptic pun menyelesaikan proses take untuk album ketiga mereka. Sebenarnya, yang mereka rekam pada saat itu adalah delapan lagu di album pertama, namun kali ini Berry yang mengisi vokalnya—yang notabene pada album pertama tugas itu dipegang oleh Randy dan Josi. Sisanya adalah enam lagu orisinil dari album kedua, satu lagu baru yang berjudul “Politic”, dan satu lagu lagi dari The Dehumanizers, “Grandma I’m A Drug Fiend”.<br /><br />Menengok ke masa lalu Septic yang sedemikian dekat dengan kekerasan, alkohol, bahkan drugs, sebagian orang mungkin akan kagum melihat mereka mampu menggulirkan nasib ke tempat yang jauh lebih baik. Di mana sebagian lain mungkin akan memandang nyinyir terhadap kemapanan yang telah mereka capai. Sekarang kita bisa melihat Antiseptic telah mempunyai studio musik sendiri, lengkap dengan studio tato, serta distro; yang kesemuanya itu telah menjadi sumber penghasilan bagi mereka. Tapi satu hal yang bisa kita lihat pada diri Berry adalah: ia sama sekali tidak berubah. Ia masih orang yang sama dengan dirinya duapuluh tahun lalu, yang menolak untuk diseragamkan. “Punk adalah kebebasan. Kalau udah ada satu orang yang ngomong punk harus begini, punk harus begitu, itu pasti salah. Itu pasti ngaco orangnya. Nggak ada yang bisa mengatur punk. Punk adalah freedom—kebebasan. Jadilah diri lo sendiri,” tukas Berry. “Dan kalau sekarang punk banyak bilang anti mainstream, anti major label, sekarang dia mau ngomong apa kalau gue bilang band-band punk pertama itu semua major? Dari the Sex Pistols, <a href="http://www.last.fm/music/Ramones" class="bbcode_artist">Ramones</a>, <a href="http://www.last.fm/music/The+Clash" class="bbcode_artist">The Clash</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Buzzcocks" class="bbcode_artist">Buzzcocks</a>, semuanya band major label—band mainstream. Jadi mereka nggak bilang bahwa the Sex Pistols itu punk? Yang mereka bilang punk itu mereka? Siapa dia?”<br /><br />Bagi Berry prinsip anti-kemapanan, selain karena faktor usia seseorang, juga merupakan tren. Ia yakin, Antiseptic pernah mengungkapkan soal ini pada salah satu lagunya yang berjudul “Just Another Fashion” di album pertama. Kata Berry, “gue sebenarnya menyindir mereka. Orang-orang yang ada cuma sesaat. Kayak ada lirik yang ngomong: When the trend is changing, you just fucking gone. Ketika tren berubah, ya lo cabut juga. Liriknya seperti itu. Mereka orang-orang yang cuma sesaat, tapi ngomongnya udah kayak ‘gimana ‘gitu. Seperti itulah kebanyakan bangsa kita. Jadi nggak real. Karena memang punk nggak bisa real di sini. Lo harus kerja!”<br /><br />Josi angkat bicara untuk pertama kalinya dalam wawancara ini, “ada saatnya mereka pasti terbentur sama realita. Di saat lo harus memutuskan anak lo mau menyusu pakai apa.”<br /><br />Jika perguliran hidup diibaratkan seperti pergantian siang dan malam, maka menurut Berry kehidupan Antiseptic saat ini bisa disamakan dengan saat-saat menjelang pagi. Setelah album ketiganya dirilis oleh sebuah label rekaman Amerika Serikat, band ini memiliki rencana untuk melakukan tur ke negeri tersebut tahun depan. Selain sesuatu yang positif bagi Antiseptic, tampaknya titik ini merupakan sebuah awal yang cerah bagi masing-masing personilnya. “Kalau pun akan lebih dari ini, gue tetap senang. Tapi kalau highest achievement, gue sudah mencapainya,” ujar Randy dengan nada bicara yang tenang, dan wajah yang berseri-seri. “Gue punya band paling keren buat gue, gue sudah punya keluarga, ada pemasukan, ya syukur-syukur bisa manggung di Amerika.”<br /><br />Lantas apakah masih ada yang ingin Antiseptic tunjukkan kepada generasi hardcore punk hari ini, sebagai band yang memulai musik ini di Indonesia serta membawa segala atributnya?  “Jadi pernah Ian MacKaye, setelah Minor Threat bubar, dia nonton <a href="http://www.last.fm/music/Bad+Brains" class="bbcode_artist">Bad Brains</a>. Tahu-tahu ada keributan di acara itu. Akhirnya Ian MacKaye ngomong ke H.R., vokalis Bad Brains: ‘Kenapa ya kok sekarang gue jadi malas melihat hal-hal seperti ini?’ Terus kata vokalis Bad Brains: ‘You have to finish what you started, man!’. Maksudnya, lo yang mulai. Dulu lo violence. Karena bertambah umur, sekarang lo nggak violence, ya, lo harus ajari mereka supaya mereka lebih berpendidikan; lebih punya attitude, dan segala macam. Nggak usah mengikuti lo di masa lalu. Lo harus bikin mereka mengikuti lo di jaman sekarang,” ujar Berry bersemangat. “Mungkin itu yang gue alami sekarang. Jadi kalau gue sudah nggak suka violence, lebih pakai otak dalam segala macam, sudah nggak mabuk; gue ingin audience gue juga mengikuti gue di saat sekarang ini. Bukan yang dulu lagi.”<br />__<br /><br /><em><strong>Artikel ini ditulis pada bulan Agustus 2010. Sejatinya akan menjadi artikel feature untuk sebuah majalah rock edisi September 2010. Namun, lantaran penerbit majalah itu bangkrut, artikel ini terus berada di harddisk komputer pribadi saya. Saya publikasikan artikel ini di Last.fm atas nama cinta pada sejarah musik.</strong></em></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>Festival Musik Gratis Berbahaya</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/01/12/45jxdo_festival_musik_gratis_berbahaya</link>
         <pubDate>Wed, 12 Jan 2011 07:44:36 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2011/01/12/45jxdo_festival_musik_gratis_berbahaya</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><a href="http://www.last.fm/festival/1781744+RRREC+Music+Fest+-+Bazaar" class="bbcode_event">Sat 8 Jan – RRREC Music Fest &amp; Bazaar</a><br /><br /><img src="http://www.freeimagehosting.net/uploads/4d377c606c.jpg" /><br /><em>(*) Foto: Efek Rumah Kaca (Rama Wirawan)</em><br /><br /><em><strong>RuangRupa rayakan ulangtahun ke-10 dengan menggelar acara musik berbahaya di awal tahun 2011.<br /></strong></em><br /><br />Dari serangkaian agenda acara perayaan ulangtahun ke-10 kolektiv seniman alternatif RuangRupa, RRREC Fest adalah salah satu yang paling dekat dengan budaya populer, di samping pemutaran film yang mereka beri nama Ruru.Mov. Keduanya berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Jika kita ingin membandingkan dari keduanya, maka saya bisa memastikan bahwa RRREC Fest lebih mendapatkan atensi masyarakat. Ini bisa terlihat ketika misalnya DVD <a href="http://www.last.fm/music/Seringai" class="bbcode_artist">Seringai</a> – <em>Generasi Menolak Tua</em> diputarkan pada pukul lima sore di hari pertama RRREC Fest, ruang auditorium itu hanya terisi tak lebih dari 10 orang. Sedangkan di luar terlihat para pengunjung sudah mulai asyik untuk menyaksikan <a href="http://www.last.fm/music/Kapitalindo" class="bbcode_artist">Kapitalindo</a> membuka RRREC Fest itu. Tentu saja tanpa bermaksud membandingkan popularitas kedua band tersebut.<br /><br />Saya jadi teringat salah satu nukilan terkenal dari seorang pemikir anarkis bernama Emma Goldman yang berbunyi, “<em>if I can’t dance, it’s not my revolution</em>.” Saya menduga pemikiran seperti itulah yang sedikit banyak melandasi motivasi RuangRupa untuk juga menyelipkan acara musik bernama RRREC Fest itu di dalam agenda acara ulangtahunnya. Karena saya pun setuju jika ada yang mengatakan bahwa aktivisme apapun jika dilakukan terlalu serius, maka akan mereduksi intensitas terhadap hidup itu sendiri. Dan dengan itu musik pun bisa jadi merupakan salah satu solusi termutakhir bagi permasalahan dalam menyampaikan gagasan kepada masyarakat populer. Terutama yang revolusioner, atau biasa disebut oleh anak-anak sekarang dengan istilah “berbahaya.”<br /><br />Seperti yang bisa kita lihat pada rundown RRREC Fest ini, para band penampilnya merupakan band-band yang kita ketahui telah memilih untuk tidak menukarkan musikalitas atau gagasan-gagasan ideal mereka mengenai musik dengan popularitas atau uang yang menjadi iming-iming dari perusahaan-perusahaan rekaman besar pada umumnya. Sebut saja <a href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca" class="bbcode_artist">Efek Rumah Kaca</a>, <a href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs" class="bbcode_artist">The Upstairs</a>, <a href="http://www.last.fm/music/White+Shoes+&amp;+The+Couples+Company" class="bbcode_artist">White Shoes &amp; The Couples Company</a>, atau <a href="http://www.last.fm/music/Bangkutaman" class="bbcode_artist">Bangkutaman</a>. Sejak pertama kali kita mengenal mereka dalam beberapa kurun waktu belakangan, mereka telah memilih konsep bermusik yang berbeda dengan kebanyakan musisi atau band yang biasa kita lihat di acara-acara musik televisi pagi hari. Perbedaan konsep itu tentunya mencerminkan perbedaan motivasi bermusik mereka yang, seperti sudah sempat disebutkan di atas, tidak mengutamakan pemerolehan popularitas dan uang. Memilih resiko untuk menjadi tidak laku, dan malah belakangan kemudian menjadi sesuatu yang berbahaya karena membuka dan terus merentang ruang alternatif; sebagai realitas lain dari apa yang telah diyakini adanya oleh masyarakat selama ini.<br /><br />Selain band-band penampil, ada yang lebih berbahaya: acara ini gratis! Tidak ada yang lebih berbahaya daripada menggratiskan sesuatu di dalam sistem kapitalisme ini. Bayangkan Anda sedang berbelanja di sebuah pasar, di mana semua barang yang dijual telah memiliki harganya masing-masing. Dan tiba-tiba dari salah satu sudut ada seseorang yang berteriak, “Kemari semua! Barang-barang di sebelah sini gratis!” Bayangkan apa yang terjadi kemudian. Chaos. Ini adalah sesuatu yang sebenarnya selalu dicegah terjadi dalam sistem. Namun, ruangrupa dengan keberanian serta kerjasama yang baik dengan jejaringnya telah mampu merealisasikan sebuah acara musik yang biasanya berbayar (dengan band-band yang memiliki nama besar di scene!) menjadi gratis.<br /><br /><strong>Hari Pertama (Sabtu, 8/1/2011)</strong><br />Maka acara musik gratis itu pun berlangsung ramai. Dua panggung yang tersedia di sana, outdoor dan indoor (pertunjukan di area indoor adalah pertunjukan yang direkam dan menurut Ade Darmawan, pendiri ruangrupa, akan menjadi album rilisan perdana label rekaman milik ruangrupa, ruru records) hampir tidak pernah kosong oleh penonton bahkan sejak Kapitalindo membuka hari pertama di panggung outdoor. Memang saat itu penonton masih terlihat sepi dan sebagian memilih untuk menyaksikan penampilan band tersebut sambil duduk-duduk. Namun, musik <a href="http://www.last.fm/tag/jazz%20fusion" class="bbcode_tag" rel="tag">jazz fusion</a> yang disajikan oleh Kapitalindo tampaknya cukup atraktif sehingga mampu membuat penonton mengangguk-anggukkan kepala mengikuti groove yang tercipta. Terlebih dengan adanya kolaborasi dengan seorang MC dari grup <a href="http://www.last.fm/tag/hip-hop" class="bbcode_tag" rel="tag">hip-hop</a> <a href="http://www.last.fm/music/Jalan+Surabaya" class="bbcode_artist">Jalan Surabaya</a> yang mampu menambah variasi menyegarkan. Sementara itu di panggung indoor, yang terletak di dalam sebuah ruang tak seberapa besar, <a href="http://www.last.fm/music/the+wispy+hummers" class="bbcode_artist">the wispy hummers</a>, <span title="Unknown artist" class="bbcode_unknown">Muhammad Djayzuan</span> bergantian membuat penonton bertepuk tangan. Saya tak sempat menyaksikan mereka. Pasalnya, saya selalu kalah cepat untuk tiba di sana. Hasilnya, saya tidak dapat masuk ke dalam dan hanya bisa mendengarkan band-band itu dari pintu bersama para penonton lain yang bernasib sama seperti saya. Persis seperti orang yang terlambat datang ke masjid pada hari Jum’at dan hanya bisa mendengarkan khotbah dari depan pintu sembari berdiri. Tapi dari sana saya sempat melihat musisi perempuan dari Singapura, <a href="http://www.last.fm/music/The+Analog+Girl" class="bbcode_artist">The Analog Girl</a>, tampil membawakan musik eletroniknya yang bertendensi ambient nan gelap dengan pemanfaatan alat-alat elektronisnya mulai dari laptop, synthesizer, maupun benda-benda lain yang saya tidak tahu apa namanya.<br /><br />Kembali ke panggung outdoor, saya menyaksikan sebuah band yang berbasis <a href="http://www.last.fm/tag/free%20jazz" class="bbcode_tag" rel="tag">free jazz</a> pengusung semangat dekonstruksi para postmodernis pengikut Derrida, nama mereka <a href="http://www.last.fm/music/Sungsang+Lebam+Telak" class="bbcode_artist">Sungsang Lebam Telak</a>. Ini pertama kalinya saya menyaksikan Sungsang Lebam Telak secara live. Jadi saya cukup terkejut ketika malam itu mereka tampil tidak dalam formasi bertiga layaknya formasi rekaman mereka. Namun, itu sebuah keterkejutan yang baik. Alih-alih membawakan komposisi-komposisi yang dalam rekaman panjangnya tidak mencapai 1 menit, Sungsang Lebam Telak (yang malam itu menahbiskan diri sendiri dengan nama “Sungsang Lebam Telak Orchestra”) membawakan sebuah komposisi yang kira-kira berdurasi 10 menit. Lengkap dengan imbuhan deklamasi yang suram, sesuram komposisi musik mereka malam itu.<br /><br />Tuntas “Sungsang Lebam Telak Orchestra”, sebelum Bangkutaman tampil, sebuah band pengusung <a href="http://www.last.fm/tag/new%20wave" class="bbcode_tag" rel="tag">new wave</a> <a href="http://www.last.fm/music/Hightime+Rebellion" class="bbcode_artist">Hightime Rebellion</a> menghibur penonton di sana dengan lagu-lagu mereka yang didominasi nuansa <a href="http://www.last.fm/tag/disco" class="bbcode_tag" rel="tag">disco</a>. Kemudian Bangkutaman mengisi panggung itu. Formasi Bangkutaman malam itu adalah Wahyu ‘Acum’ Nugroho pada bas, harmonika dan vokal utama, gitaris J. Irwin, pemain drum Dedyk Erianto dan pemain keyboard serta perkusi additional Madava. Bangkutaman malam itu memperoleh sesuatu yang setimpal dengan perjuangan mereka menjaga kelangsungan band selama lebih dari satu dekade: penonton memadati depan panggung mereka! Saya hanya sempat menyaksikan sekitar dua lagu yang Bangkutaman bawakan: “<a title="Bangkutaman &ndash; Hilangkan" href="http://www.last.fm/music/Bangkutaman/_/Hilangkan" class="bbcode_track">Hilangkan</a>” dan “<a title="Bangkutaman &ndash; Jalan Pulang" href="http://www.last.fm/music/Bangkutaman/_/Jalan+Pulang" class="bbcode_track">Jalan Pulang</a>.” Karena saya pun harus segera menuju panggung indoor agar tidak kehabisan tempat untuk menyaksikan <a href="http://www.last.fm/music/Ghaust" class="bbcode_artist">Ghaust</a>.<br /><br />Di indoor, para penonton sudah terlihat duduk memadati depan panggung tatkala pemain gitar Uri A. Putra (yang notabene juga merupakan gitaris harsh noise <a href="http://www.last.fm/music/BERTANDUK!" class="bbcode_artist">BERTANDUK!</a> dan juga grindcore <a href="http://www.last.fm/music/GATT" class="bbcode_artist">GATT</a>) dan pemain drum M. Edward sedang menyiapkan peralatan mereka. Sampai suatu ketika Uri menghampiri microphone yang ke depannya tidak akan ia pakai lagi, karena musik Ghaust memang tidak menggunakan vokal, dan berkata: “Nontonnya berdiri aja, ya, dan agak maju ke depan. Biar teman-teman yang masih di luar bisa masuk ke dalam.” Sontak para penonton itu pun berdiri dan menyeruak ke depan panggung. Dan kemudian Ghaust pun tanpa berbicara lagi, dan seterusnya sampai akhir tidak berbicara, membuat para penonton melakukan headbang-headbang kecil dengan komposisi-komposisi musik <a href="http://www.last.fm/tag/post-metal" class="bbcode_tag" rel="tag">post-metal</a> yang beraura <a href="http://www.last.fm/tag/doom" class="bbcode_tag" rel="tag">doom</a> mereka.<br /><br />Setelah Ghaust, saya tidak sempat menyaksikan <a href="http://www.last.fm/music/The+Milo" class="bbcode_artist">The Milo</a>. Lagi-lagi penyebabnya karena setelah Ghaust saya sempat keluar untuk cari minum, dan ketika kembali saya sudah menemukan pintu ruang indoor itu sudah kembali dijejali oleh orang-orang yang ingin mengintip penampilan band <a href="http://www.last.fm/tag/shoegaze" class="bbcode_tag" rel="tag">shoegaze</a> Bandung itu di dalam sana. Sementara itu dari kejauhan saya mendengar dentuman tata suara tatkala Jalan Surabaya tampil di sana. <br /><br />Saya pun akhirnya berhasil masuk kembali ke area indoor sebelum band pendobrak era new wave baru <a href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs" class="bbcode_artist">The Upstairs</a> tampil. Seperti yang sudah bisa ditebak, para Modern Darlings (fanbase The Upstairs—red) sudah siap di depan panggung menanti kehadiran band yang digawangi oleh vokalis Jimi Multhazam itu. The Upstairs malam itu membawakan lagu-lagu mereka secara medley. Sesuatu yang sebenarnya beresiko membuat penonton mudah bosan. Mulai dari “<a title="The Upstairs &ndash; Disko Darurat" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Disko+Darurat" class="bbcode_track">Disko Darurat</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Frustasi" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Frustasi" class="bbcode_track">Frustasi</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Antah Berantah" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Antah+Berantah" class="bbcode_track">Antah Berantah</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Modern Bob" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Modern+Bob" class="bbcode_track">Modern Bob</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; apakah aku berada di Mars atau mereka mengundang orang Mars" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/apakah+aku+berada+di+Mars+atau+mereka+mengundang+orang+Mars" class="bbcode_track">apakah aku berada di Mars atau mereka mengundang orang Mars</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Tak Peduli" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Tak+Peduli" class="bbcode_track">Tak Peduli</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Alexander graham bell" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Alexander+graham+bell" class="bbcode_track">Alexander graham bell</a>,” “<a title="The Upstairs &ndash; Cosmic G Spot" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Cosmic+G+Spot" class="bbcode_track">Cosmic G Spot</a>” dan tentu saja “<a title="The Upstairs &ndash; Matraman" href="http://www.last.fm/music/The+Upstairs/_/Matraman" class="bbcode_track">Matraman</a>.” Penampilan The Upstairs ditutup dengan melompatnya pemain bas/synthesizer Pandu Fathoni (yang juga merupakan gitaris <a href="http://www.last.fm/music/The+Porno" class="bbcode_artist">The Porno</a> dan <a href="http://www.last.fm/music/morfem" class="bbcode_artist">morfem</a>) ke arah Modern Darlings untuk melakukan body surfing di atas tangan-tangan mereka dan kemudian menendang-nendangkan kaki ke udara.<br /><br /><strong>Hari Kedua (Minggu, 9/1/2011)</strong><br />Dan puncak keramaian pengunjung acara RRREC Fest terjadi di hari kedua. Sesuatu yang telah saya duga sejak saya mengetahui ada tiga nama band besar yang tampil berurutan di penghujung acara: <a href="http://www.last.fm/music/Frau" class="bbcode_artist">Frau</a>, White Shoes &amp; The Couples Company dan Efek Rumah Kaca. Saya tidak banyak menonton pada hari kedua itu. Selain karena lebih sulit untuk masuk ke area indoor dengan tingkat kepadatan seperti itu, malam itu saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang teman. Sesuatu yang merupakan fungsi lain dari gigs: bersosialisasi dan kembali menjadi manusia.<br /><br />Band shoegaze <a href="http://www.last.fm/music/L%27Alphalpha" class="bbcode_artist">L'Alphalpha</a> tampil sangat memukau ketika mereka membuka panggung indoor sekitar pukul lima sore. Lima buah lagu yang mereka bawakan benar-benar seperti telah mereka susun dengan cermat menjadi sebuah setlist yang mampu menuntun penonton ke arah yang mereka mau. Permainan drum yang dinamis, gesekan biola yang simfonis, dan keyboard serta synthesizer yang mengisi lapisan ambience musik mereka berhasil menghanyutkan perasaan penonton, seperti pada lagu pertama mereka, “<span title="Unknown track" class="bbcode_unknown">Silence</span>.” Arus itu terasa makin intens seiring pergantian lagu. Hingga di lagu terakhir, “<a title="L&rsquo;Alphalpha &ndash; Fall Asleep" href="http://www.last.fm/music/L%E2%80%99Alphalpha/_/Fall+Asleep" class="bbcode_track">Fall Asleep</a>,” intensitas itu semakin memuncak dan membuat perasaan seperti meledak. Orgasmik!<br /><br />Seperti yang sempat saya sebutkan, saya tidak sempat menyaksikan band-band berikutnya. Di indoor mereka adalah <a href="http://www.last.fm/music/Sir+Dandy" class="bbcode_artist">Sir Dandy</a>, <a href="http://www.last.fm/music/KUNOKINI" class="bbcode_artist">KUNOKINI</a>, Frau, dan White Shoes &amp; The Couples Company. Sementara di outdoor adalah <a href="http://www.last.fm/music/The+Kucruts" class="bbcode_artist">The Kucruts</a>, <a href="http://www.last.fm/music/vult" class="bbcode_artist">vult</a>, <span title="Unknown artist" class="bbcode_unknown">That’s Rockefeller</span>, <span title="Unknown artist" class="bbcode_unknown">Thedjembuts</span> dan <a href="http://www.last.fm/music/Racun+Kota" class="bbcode_artist">Racun Kota</a>. Saya tidak menyaksikan semua itu. Namun saya sempat menyambangi panggung outdoor ketika <a href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam" class="bbcode_artist">Kelelawar Malam</a> tampil. Band yang sudah merilis album penuh bertajuk <a title="Kelelawar Malam - Kelelawar Malam" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/Kelelawar+Malam" class="bbcode_album">Kelelawar Malam</a> pada 2010 lalu itu menampilkan <em>gimmick</em> khas mereka dengan membangun suasana keangkeran lokal: asap kemenyan dan bunga melati yang dilempar-lemparkan dari belakang panggung oleh kru mereka. Serta tak lupa ornamen darah buatan di bawah mulut para personil masing-masing. Kelelawar Malam membawakan lagu-lagu mereka yang sudah cukup dikenal oleh sebagian besar penonton malam itu dengan mantap. Seperti “<a title="Kelelawar Malam &ndash; Malam Terkutuk" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/_/Malam+Terkutuk" class="bbcode_track">Malam Terkutuk</a>,” “<a title="Kelelawar Malam &ndash; Suzannakenstein" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/_/Suzannakenstein" class="bbcode_track">Suzannakenstein</a>,” “<a title="Kelelawar Malam &ndash; Malam Jumat Kliwon" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/_/Malam+Jumat+Kliwon" class="bbcode_track">Malam Jumat Kliwon</a>,” “<a title="Kelelawar Malam &ndash; Palu Keadilan" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/_/Palu+Keadilan" class="bbcode_track">Palu Keadilan</a>,” dan “<a title="Kelelawar Malam &ndash; Bangkit Dari Kubur" href="http://www.last.fm/music/Kelelawar+Malam/_/Bangkit+Dari+Kubur" class="bbcode_track">Bangkit Dari Kubur</a>.” Beberapa orang menyebut mereka band horror <a href="http://www.last.fm/tag/punk%20rock" class="bbcode_tag" rel="tag">punk rock</a>. Namun, menurut saya musik mereka adalah <a href="http://www.last.fm/tag/hard%20rock" class="bbcode_tag" rel="tag">hard rock</a> yang dibawakan oleh anak-anak punk pecinta film horror dengan amplifikasi gitar ala <a href="http://www.last.fm/tag/sludge%20metal" class="bbcode_tag" rel="tag">sludge metal</a>.<br /><br />Band lain yang saya saksikan malam itu adalah Efek Rumah Kaca. Band yang terbentuk pada tahun 2001 namun mulai menggebrak publik pada tahun 2007 dengan debut album mereka itu menjadi band pamungkas RRREC Fest. Masih tanpa pemain bas Adrian, yang digantikan oleh Hans (gitaris <a href="http://www.last.fm/music/C%E2%80%99mon+Lennon" class="bbcode_artist">C&rsquo;mon Lennon</a>), vokalis/gitaris Cholil dan pemain drum Akbar malam itu membuat penonton yang memadati ruang indoor bernyanyi terus menerus tanpa henti di setiap lagu yang dibawakan. Mulai dari “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Tubuhmu Membiru&hellip; Tragis" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Tubuhmu+Membiru%E2%80%A6+Tragis" class="bbcode_track">Tubuhmu Membiru&hellip; Tragis</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Debu-Debu Berterbangan" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Debu-Debu+Berterbangan" class="bbcode_track">Debu-Debu Berterbangan</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Hujan Jangan Marah" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Hujan+Jangan+Marah" class="bbcode_track">Hujan Jangan Marah</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Desember" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Desember" class="bbcode_track">Desember</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Mosi Tidak Percaya" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Mosi+Tidak+Percaya" class="bbcode_track">Mosi Tidak Percaya</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Lagu Kesepian" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Lagu+Kesepian" class="bbcode_track">Lagu Kesepian</a>,” “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Sebelah Mata" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Sebelah+Mata" class="bbcode_track">Sebelah Mata</a>”; hampir tidak ada satu lagu pun yang tidak dikenal baik oleh penonton. Ini membuktikan bahwa Efek Rumah Kaca telah menjadi bagian besar dalam hidup mereka.<br /><br />Ketika Efek Rumah Kaca harus mengakhiri penampilan mereka malam itu, terjadilah kekisruhan. Para penonton merikues lagu yang berbeda-beda secara serempak. Sehingga apa yang terdengar adalah suara-suara yang tidak jelas. Barangkali jika Efek Rumah Kaca membawakan semua lagu yang mereka punya dari dua album penuh yang sudah dirilis, para penonton itu pun tidak akan ada yang beranjak pergi hanya untuk bisa mendengarkan lagu favoritnya dimainkan secara live.<br /><br />“’Cinta Melulu’ atau ‘Kenakalan Remaja’ nih?” tanya Cholil memecah kekisruhan suara-suara penonton tadi. Penonton itu pun lagi-lagi menjawab dengan tidak senada. Karena memang kedua lagu itu pasti memiliki pencintanya masing-masing yang tidak sedikit. Namun, akhirnya Efek Rumah Kaca pun memutuskan untuk memainkan “<a title="Efek Rumah Kaca &ndash; Cinta Melulu" href="http://www.last.fm/music/Efek+Rumah+Kaca/_/Cinta+Melulu" class="bbcode_track">Cinta Melulu</a>.”<br /><br />Gelaran musik gratis selama dua hari itu pun tuntas. Banyak penonton yang memuji, tapi banyak juga yang mengeluh karena area indoor terlalu sempit sehingga tidak bisa menampung jumlah penonton yang bombastis. Namun, keluhan tentu saja bukan sesuatu yang etis mengingat acara ini gratis. Saya jadi ingat percakapan dengan Akbar “Efek Rumah Kaca” yang berlangsung malam itu. Ia mengkritisi kita semua di scene musik indie Indonesia. Menurutnya, acara RRREC Fest itu bisa ramai bukanlah sesuatu yang aneh, semenjak acara ini gratis. <br /><br />“Coba kalau disuruh bayar, 10 ribu aja deh, pasti sepi. Anak-anak di sini seperti itu. Maunya ada perubahan di dalam musik kita, tapi perubahan itu kan sesuatu yang bisa terjadi jika dilakukan bersama-sama. Mereka bahkan daripada membeli CD band-band yang mereka suka aja malah lebih memilih bajakannya, atau mengkopi sama temannya. Sebagian dari mereka pun datang ke gigs musik indie juga bukan karena suka musiknya. Tapi supaya terlihat keren,” papar Akbar panjang lebar.<br /><br /><strong><em>Rama Wirawan. Menulis ini tidak atas nama institusi atau media tertentu.</em></strong></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>My wishlist for Java Rockin'Land 2011</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/12/30/44o6rg_my_wishlist_for_java_rockin%27land_2011</link>
         <pubDate>Thu, 30 Dec 2010 03:44:05 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/12/30/44o6rg_my_wishlist_for_java_rockin%27land_2011</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><strong>My wishlist for Java Rockin'Land 2011: </strong><br /><br />1. <a href="http://www.last.fm/music/Rush" class="bbcode_artist">Rush</a><br />2. <a href="http://www.last.fm/music/Slayer" class="bbcode_artist">Slayer</a><br />3. <a href="http://www.last.fm/music/Mastodon" class="bbcode_artist">Mastodon</a><br />4. <a href="http://www.last.fm/music/Children+of+Bodom" class="bbcode_artist">Children of Bodom</a><br />5. <a href="http://www.last.fm/music/Bad+Religion" class="bbcode_artist">Bad Religion</a><br />6. <a href="http://www.last.fm/music/Descendents" class="bbcode_artist">Descendents</a><br />7. <a href="http://www.last.fm/music/Rage+Against+the+Machine" class="bbcode_artist">Rage Against the Machine</a><br />8. <a href="http://www.last.fm/music/Tarja" class="bbcode_artist">Tarja</a><br />9. <a href="http://www.last.fm/music/Orphaned+Land" class="bbcode_artist">Orphaned Land</a><br />10. <a href="http://www.last.fm/music/Aeon+Of+Horus" class="bbcode_artist">Aeon Of Horus</a><br /><br /><strong>What is 'Java Rockin'Land'?</strong><br />Java Rockin'Land (JRL) is the biggest rock music festival in Southeast Asia which was held in Jakarta, Indonesia, by <strong>PT. Java Festival Production</strong>. And so far been held twice, once a year. <br /><br />In 2009, the first, JRL has managed to bring <strong>Mew</strong>, <strong>Vertical Horizon</strong>, <strong>Third Eye Blind</strong>, <strong>Secondhand Serenade</strong>, etc. In 2010, JRL successfully bring <strong>Stryper</strong>, <strong>Smashing Pumpkins</strong>, <strong>Wolfmother</strong>, <strong>The Vines</strong>, etc. <br /><br />Each year, JRL lasted for three days with a lot of the stage in an environment that is ideal for rock music festival: on the beach!<br /><br /><a href="http://www.javarockingland.com" rel="nofollow">www.javarockingland.com</a></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>Masih ingat lagu &quot;Bongkar&quot;, &quot;Bento&quot;, atau &quot;Nyanyian Jiwa&quot;?</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/21/423o4b_masih_ingat_lagu_%22bongkar%22,_%22bento%22,_atau_%22nyanyian_jiwa%22%3F</link>
         <pubDate>Sun, 21 Nov 2010 08:07:13 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/21/423o4b_masih_ingat_lagu_%22bongkar%22,_%22bento%22,_atau_%22nyanyian_jiwa%22%3F</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode">Tentu saja kita masih ingat lagu-lagu berjudul &quot;<a title="Swami &ndash; Bongkar" href="http://www.last.fm/music/Swami/_/Bongkar" class="bbcode_track">Bongkar</a>,&quot; &quot;<a title="Swami &ndash; Bento" href="http://www.last.fm/music/Swami/_/Bento" class="bbcode_track">Bento</a>,&quot; atau &quot;<a title="Swami &ndash; Nyanyian jiwa" href="http://www.last.fm/music/Swami/_/Nyanyian+jiwa" class="bbcode_track">Nyanyian jiwa</a>.&quot; Itu semua adalah karya esensial yang dibuat oleh salah satu band legendaris negeri ini, Swami. Kalau kamu juga mencintai Swami, bantu vote foto mereka. Karena ada band India yang memakai nama yang sama dan sudah terlebih dulu mengklaim halaman last.fm dengan nama Swami. Baiklah, itu memang kata yang berasal dari bahasa India. Tapi menurut saya semestinya mereka menghormati band yang lebih dulu lahir dengan nama itu. Saya tidak menghapus infonya pada wikinya, itu sudah bagus. Saya hanya menggeser infonya ke bawah. Tapi fotonya (entah kenapa) belum mau berubah. Mungkin yang voting kurang banyak. Karena itu, sekali lagi, saya minta tolong pada teman-teman sekalian untuk mem-vote foto Swami pada link berikut: <a href="http://www.last.fm/music/Swami/+images/54204051">http://www.last.fm/music/Swami/+images/54204051</a><br /><br />Terimakasih.<br /><br /><em>NB: saya sengaja tidak membuat link pada kata &quot;Swami&quot; di atas. Agar keberadaan jurnal ini tidak memancing perhatian band India itu.</em></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>Keith Richards Membantah Telah Memukul Wartawan - Rolling Stone Indonesia</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/19/41yvzg_keith_richards_membantah_telah_memukul_wartawan_-_rolling_stone_indonesia</link>
         <pubDate>Fri, 19 Nov 2010 08:52:00 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/19/41yvzg_keith_richards_membantah_telah_memukul_wartawan_-_rolling_stone_indonesia</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><em>Seorang jurnalis Swedia menuduh Richards memukulinya di saat wawancara.</em><br /><br />Oleh : Jem Aswad/Tasya Siregar<br /><br />Gitaris <a href="http://www.last.fm/music/The+Rolling+Stones" class="bbcode_artist">The Rolling Stones</a>, <a href="http://www.last.fm/music/Keith+Richards" class="bbcode_artist">Keith Richards</a> dilaporkan mengancam dan menyerang seorang jurnalis asal Swedia pada sebuah wawancara di sebuah hotel di Paris pada awal pekan lalu. Melalui perwakilannya, ia membantah kepada Rolling Stone bahwa telah terjadi kekerasan yang dilakukan oleh Richards terhadap jurnalis tersebut. [...]<br /><br /><a href="http://www.rollingstone.co.id/read/2010/11/11/932/5/1/Keith_Richards_Membantah_Telah_Memukul_Wartawan" rel="nofollow">http://www.rollingstone.co.id/read/2010/11/11/932/5/1/Keith_Richards_Membantah_Telah_Memukul_Wartawan</a></div>]]></description>
               </item>
      <item>
         <title>BRNDLS Alias The Brandals Merilis Single Gratis Unduh - Rolling Stone Indonesia</title>
         <link>http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/19/41yvv9_brndls_alias_the_brandals_merilis_single_gratis_unduh_-_rolling_stone_indonesia</link>
         <pubDate>Fri, 19 Nov 2010 08:47:52 +0000</pubDate>
         <guid isPermaLink="true">http://www.last.fm/user/RamaWirawan/journal/2010/11/19/41yvv9_brndls_alias_the_brandals_merilis_single_gratis_unduh_-_rolling_stone_indonesia</guid>
         <description><![CDATA[<div class="bbcode"><em>Siap merilis album baru Januari mendatang dan penulisan nama band berubah: BRNDLS</em><br /><br />Oleh : Wendi Putranto<br /><br /><a href="http://www.last.fm/music/The+Brandals" class="bbcode_artist">The Brandals</a> pada hari Selasa (16/11) pukul 18:00 WIB tadi secara serentak mengganti penulisan nama band dan merilis sebuah single terbaru mereka yang berjudul ”Start Bleeding” untuk diunduh secara gratis via website label rekaman mereka, Sinjitos Records. [...]<br /><br /><a href="http://www.rollingstone.co.id/read/2010/11/11/931/5/1/BRNDLS_Alias_The_Brandals_Merilis_Single_Gratis_Unduh_" rel="nofollow">http://www.rollingstone.co.id/read/2010/11/11/931/5/1/BRNDLS_Alias_The_Brandals_Merilis_Single_Gratis_Unduh_</a></div>]]></description>
               </item>
   </channel>
</rss>